Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan kuliner yang luar biasa, termasuk dalam hal camilan tradisional. Salah satu camilan khas yang mulai jarang ditemukan namun memiliki rasa dan nilai budaya tinggi adalah Manggleng. Terbuat dari singkong yang diiris tipis, dikeringkan, lalu digoreng hingga renyah, Manggleng menjadi simbol kreativitas masyarakat dalam mengolah hasil bumi menjadi makanan yang lezat dan tahan lama.
Manggleng berasal dari daerah pedesaan di Jawa, terutama Jawa Tengah. Dahulu, camilan ini dibuat oleh masyarakat desa sebagai cara memanfaatkan sisa singkong dari hasil panen. Singkong yang tidak langsung dimasak biasanya dijemur terlebih dahulu untuk dibuat menjadi gaplek. Namun, sebagian sisanya diiris tipis dan dijadikan Manggleng.
Di balik kesederhanaannya, Manggleng menyimpan filosofi tentang kesabaran dan ketekunan, karena proses pembuatannya cukup memakan waktu—mulai dari pengirisan, penjemuran, hingga penggorengan. Proses ini mencerminkan gaya hidup masyarakat yang menghargai waktu dan usaha dalam setiap hasil kerja mereka.
Proses pembuatan Manggleng dimulai dengan pengupasan dan pencucian singkong, lalu diiris sangat tipis menggunakan alat pemotong. Irisan singkong ini kemudian dijemur di bawah sinar matahari selama beberapa hari hingga benar-benar kering agar kadar airnya berkurang. Proses penjemuran menjadi kunci untuk menghasilkan Manggleng yang renyah dan tahan lama. Setelah kering, irisan Manggleng digoreng dengan menggunakan minyak panas hingga mengembang dan berwarna keemasan. Setelah digoreng Manggleng dapat dibumbui dengan aneka rasa, seperti gurih asin, pedas, atau manis sesuai selera pembuatnya.
Manggleng perlu dilestarikan bukan hanya karena rasanya yang unik, tetapi juga karena nilai sejarah dan budayanya yang melekat. Dengan melestarikan Manggleng, kita berarti turut serta dalam menjaga kearifan lokal dengan cara mengolah hasil bumi dan mewariskan tradisi kuliner kepada generasi mendatang. Selain itu, Manggleng dapat menjadi produk unggulan UMKM pedesaan, membuka peluang ekonomi bagi masyarakat lokal dan mendukung ketahanan pangan berbasis singkong.
Penulis :Wulan dan Septiara

